Fakta “Sinkhole Aceh” Dibantah BRIN, Ternyata Longsor Tanah

foto: Istimewa

Aceh, adajabar.com – Fenomena lubang besar yang terus melebar di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, memicu keresahan warga setempat. Dalam beberapa hari terakhir, kejadian ini ramai diperbincangkan di media sosial dan disebut sebagai “sinkhole Aceh” karena bentuknya yang menyerupai amblesan besar di permukaan tanah.

Namun, penjelasan ilmiah berbeda disampaikan oleh pihak peneliti. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menegaskan bahwa fenomena tersebut bukanlah sinkhole seperti yang banyak diasumsikan masyarakat.

Menurut Adrin, kejadian di Aceh Tengah lebih tepat dikategorikan sebagai longsoran tanah yang terjadi secara bertahap. Ia menjelaskan bahwa kondisi geologi di lokasi memiliki lapisan tanah berupa tufa yang tidak padat dan memiliki kekuatan rendah.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” ujarnya.

Secara umum, sinkhole adalah fenomena amblesan tanah yang terjadi secara tiba-tiba akibat runtuhnya lapisan bawah tanah, biasanya dipicu oleh pelarutan batuan kapur. Lubang yang terbentuk cenderung dalam dan muncul tanpa tanda-tanda yang jelas sebelumnya.

Sementara itu, longsoran tanah seperti yang terjadi di Aceh Tengah memiliki karakteristik berbeda. Prosesnya berlangsung perlahan, ditandai dengan retakan tanah yang semakin melebar hingga akhirnya terjadi runtuhan bertahap.

Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh faktor geologi, curah hujan tinggi, serta struktur tanah yang lemah.

Meski bukan sinkhole, fenomena longsoran ini tetap berpotensi membahayakan. Pergerakan tanah yang terus berlangsung dapat menyebabkan kerusakan lebih luas, terutama jika berada dekat dengan permukiman warga.

BRIN mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama jika melihat tanda-tanda seperti retakan tanah yang semakin besar, penurunan permukaan tanah, atau perubahan struktur bangunan.

Selain itu, pemantauan secara berkala dan kajian geologi lebih lanjut diperlukan untuk mengantisipasi risiko lanjutan.

Kasus ini juga menunjukkan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap jenis-jenis bencana geologi. Penyebutan istilah yang kurang tepat seperti “sinkhole” dapat memicu kepanikan yang tidak perlu.

Dengan edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami kondisi yang terjadi dan mengambil langkah mitigasi yang sesuai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *