Ada Jabar Update
Dorong Penghijauan, BPDAS Cimanuk–Citanduy Sosialisasikan Rehabilitasi Lahan di Ciamis Dari Rumpin, Rimbawan Menyemai Kehidupan untuk Generasi Mendatang DWP Kementerian Kehutanan Gelar Penanaman Pohon Peringati Hari Bakti Rimbawan ke-43 Tokoh Sejarah Nyak Sandang Wafat, Pernah Sumbangkan Harta untuk Pesawat RI Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan tetap stabil hingga akhir tahun 2026. Kepastian ini disampaikan di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurut Purbaya, pemerintah telah menghitung secara matang ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menjaga harga BBM bersubsidi tetap terkendali, bahkan jika harga minyak dunia berada di level tinggi. “Kami siap tidak menaikkan harga BBM bersubsidi sampai akhir tahun, dengan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (6/3/2026). Ia menegaskan, perhitungan tersebut telah mempertimbangkan berbagai skenario kenaikan harga minyak global, mulai dari 80 dolar AS hingga 100 dolar AS per barel. Dengan demikian, masyarakat diminta tidak khawatir terhadap potensi kenaikan harga BBM bersubsidi. “BBM bersubsidi sampai akhir tahun aman. Masyarakat tidak perlu khawatir karena anggaran sudah kami siapkan,” jelasnya. Namun demikian, Purbaya mengakui pemerintah tidak dapat mengontrol harga BBM non-subsidi. Hal ini karena jenis BBM tersebut mengikuti mekanisme pasar dan tidak mendapatkan intervensi langsung dari pemerintah. Selain mengandalkan APBN, pemerintah juga menyiapkan sejumlah sumber pendanaan lain untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dunia. Salah satunya berasal dari Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang nilainya mencapai Rp420 triliun, termasuk sekitar Rp200 triliun yang ditempatkan di sektor perbankan. Tak hanya itu, pemerintah juga mengandalkan penerimaan dari sektor energi dan sumber daya mineral melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebagai bantalan tambahan untuk menjaga stabilitas subsidi energi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat, khususnya di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik internasional yang berpotensi mengganggu pasokan energi. Dengan kebijakan tersebut, pemerintah berharap stabilitas harga BBM bersubsidi dapat terjaga, sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat dalam menghadapi dinamika ekonomi sepanjang 2026.

Listrik Banda Aceh Pulih Total, PLN Ikuti Arahan Presiden Prabowo Pascabencana

dok.Istimewa

Banda Aceh, adajabar.com – Pasokan listrik di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, kini telah pulih sepenuhnya setelah sebelumnya mengalami gangguan akibat bencana alam. PT PLN (Persero) memastikan sistem kelistrikan Aceh kembali terhubung dengan sistem besar Sumatra dan beroperasi normal secara bertahap.

Pemulihan ini dilakukan sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang meminta agar proses pemulihan listrik di wilayah terdampak bencana dipercepat demi mendukung aktivitas masyarakat dan pelayanan publik.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa sistem kelistrikan di Banda Aceh telah pulih sepenuhnya dan kini dalam kondisi stabil.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM, kami terus mempercepat upaya pemulihan kelistrikan pascabencana Aceh. Alhamdulillah, proses ini dapat berjalan lancar dan sistem kelistrikan Banda Aceh kini telah pulih sepenuhnya,” ujar Darmawan, Kamis (18/12/2025).

PLN tidak hanya fokus pada pemulihan, tetapi juga memastikan keandalan sistem agar gangguan serupa dapat diminimalkan di masa mendatang. Darmawan menegaskan bahwa pemantauan suplai listrik dilakukan secara menyeluruh, termasuk penguatan infrastruktur kelistrikan di wilayah Aceh.

“Saat ini kami terus memonitor suplai listrik kepada masyarakat secara menyeluruh sembari memperkuat sistem agar semakin tangguh dan mampu meminimalisir potensi gangguan,” jelasnya.

Selain Banda Aceh, PLN juga melakukan pemulihan bertahap di wilayah Aceh lainnya yang terdampak bencana. Upaya ini dilakukan melalui koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terkait.

PLN juga menyiagakan personel selama 24 jam di lapangan untuk merespons cepat setiap potensi gangguan listrik yang mungkin terjadi.

“Personel kami bersiaga 24 jam di lapangan untuk mempercepat proses recovery agar seluruh wilayah Aceh dapat pulih sepenuhnya,” pungkas Darmawan.

Pemulihan kelistrikan ini diharapkan dapat membantu mempercepat pemulihan ekonomi, aktivitas sosial, serta layanan vital masyarakat Aceh pascabencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *