Pemkab Purwakarta Tindak Lanjuti Arahan Kemenkes Terkait Penanganan Polio

ilustrasi Imunisasi. (ist)

Purwakarta, adajabar.com – Jajaran Pemkab Purwakarta menindaklajuti arahan-arahan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait masalah penganan polio. Diantaranya dengan mewaspadai penyebaran virus yang dapat menular melalui feses tersebut serta mengirimkan sampel Accute Flaccid Paralysis (AFP) kepada kementerian.

Demikian disampaikan Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika. Menurutnya, dari awal jajarannya tidak menutupi ditemukannya kasus anak yang terkena polio.

“Hal ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya imunisasi lengkap bagi anak. Untuk penanganan tersebut, secara teknis kita akan tindaklanjuti arahan-arahan dari Kemenkes,” ujar Ambu Anne.

Kata dia, polio penyakit dari virus yang menular melalui feses (buang air besar). Ini bisa dicegah dengan vaksin polio. “Oleh karena itu, kami imbau agar seluruh warga Purwakarta tidak buang air besar¬† sembarangan, usahakan BAB di jamban yang sehat terstandar, dan tentu saja juga mau mengikuti imunisasi polio tetes serempak,” kata Ambu Anne seperti dilaporkan, Sabtu (1/4//2023).¬†

Sementara, Ketua Tim Surveilans Dinas Kesehatan Jawa Barat, Dewi Ambarwati mengatakan, polio di Purwakarta lebih disebabkan karena gencarnya upaya penemuan. Pihaknya terus memantau memantau dan mewaspadai kemungkinan potensi penyebaran polio menyusul temuan satu kasus positif di Kabupaten Purwakarta.

“Dari sampel yang dikirim pada 14 Maret 2023, Dinkes Jabar dan Dinkes Purwakarta mendapatkan laporan hasilnya positif virus polio tipe 2 VDVP. Sampel tersebut dari seorang anak perempuan usia 4 tahun 5 bulan warga Kampung Cadas Bodas, Desa Tegal , Datar, Kecamatan Maniis,” ujar Dewi, dikutip dari Rilis Diskominfo.

Sebagai catatan, pada tahun 2022 ada 19 daerah di Jabar yang telah memenuhi target pengiriman sampel, yaitu Kabupaten  Cirebon, Indramayu, Subang, Garut, Kuningan, Tasikmalaya, Bekasi, Bandung Barat, Pangandaran, Majalengka, Sumedang, Ciamis, dan Kabupaten Karawang. Kemudian Kota Cirebon, Sukabumi, Banjar, Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kota Bandung. Dari semua sampel tinja yang dikirim tahun 2022 tidak ada yang positif baik virus polio tipe 1,2, maupun 3.

Untuk penanganan polio di Purwakarta, Dewi mengungkapkan, ia bersama jajaran Dinkes Purwakarta, Kementerian Kesehatan RI, serta WHO telah turun ke Desa Tegal Datar Kecamatan Maniis, Purwakarta untuk melakukan langkah penyelidikan epidemiologi polio.

Menurutnya, atas dasar rekomendasi Tim Ahli, beberapa langkah sudah diambil, diantaranya;

Pertama, menggambil sampel tinja dari 30 anak sehat di desa tersebut untuk melihat apakah sudah ada sirkulasi virus dan terpapar pada anak sekitar tetapi tidak sakit (seperti kejadian di Aceh).

Kedua, skrining dari rumah ke rumah untuk mencari suspek AFP, dan melihat situasi kesehatan anak-anak mulai dari riwayat imunisasi, kesehatan lingkungan, dan lain-lain. Hingga 17 Maret 2023, tim telah berhasil mewawancarai 261 kepala keluarga dari target 200 rumah.

Ketiga, merujuk pasien suspek polio di Desa Tegal Datar ke RS Hasan Sadikin untuk diperiksa lebih lanjut. Keempat, edukasi dan meningkatkan kapasitas puskesmas dan rumah sakit di Purwakarta.

Kelima, mencegah penyebaran kasus dengan melakukan Outbreak Respon Imunization (ORI). Yakni imunisasi polio tetes tipe 2 atau lebih dikenal dengan Sub PIN pada semua anak di bawah usia 5 tahun, di seluruh kabupaten dan kota yang memiliki peta risiko tinggi polio. (dbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *